Jadilah Yang Pertama dan Mau Melayani (Markus 9: 30-37)

Renungan Pemberitaan Firman dari 

MARKUS 9: 30-37

Tema: Jadilah Yang Pertama dan Mau Melayani

(Tema dari PGI dalam rangka Hari Pekabaran Injil Indonesia & Hari Perjamuan Kudus Sedunia Minggu Pertama bulan Oktober 2024)



Tentang Tema

Tema ini harus dipahami dengan hati-hati. Sebab, menjadi yang pertama dan terdahulu dalam pandangan dunia berbeda dengan nilai Surga. Nilai-nilai yang Kristus ajarkan adalah kasih dan kerendahan hati. Dan, seperti yang Yesus katakan di ayat 35, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya.” Tidak ada yang lebih bertentangan dari dua nilai yang Yesus ajarkan itu daripada keinginan akan kedudukan di dalam dunia dan perdebatan mengenainya. “Barangsiapa yang hendak meninggikan diri, ia akan direndahkan” (Matius 23:12)

Oleh karena itu, muncul pertanyaan melihat tema saat ini: “bolehkah orang Kristen memiliki kerinduan menjadi yang pertama atau terdahulu,” kita harus hati-hati menjawabnya. Hal itu boleh, asalkan yang dimaksud “menjadi yang pertama” adalah hasrat untuk siap dalam melayani Tuhan, menanggapi panggilan-Nya dan menjadi teladan yang benar. Hal itu boleh, jikalau maksudnya bukan supaya dilihat orang, tetapi tulus ingin melayani Tuhan. “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang baik” (1 Timotius 3:1). Siapa yang ingin menjadi pendeta, penatua, adalah baik, asal motivasinya untuk melayani Tuhan.

Ragu ajaran Tuhan

Kita melihat adanya motivasi yang salah di kalangan murid-murid Yesus. Mereka juga menyadarinya, misal ketika mereka diam karena malu ketika ditanya Yesus apa yang mereka perdebatkan - sebab mereka berdebat siapa yang terbesar di antara mereka (ay. 34), tetapi mereka tampaknya masih belum terima atau ragu dengan ajaran Yesus untuk rendah hati.

Oh kita pun orang Kristen sering berbuat yang sama seperti para murid di sini. Kita telah mendengar ajaran firman Tuhan yang terang, namun kita tetap masih mempertimbangkan dan belum melaksanakannya. Sebab, kita kurang dipuaskan dengan firman Tuhan. Ini yang harus kita lakukan jikalau kita kurang puas dengan salah satu pokok yang diajarkan Tuhan: jangan lihat ke pemikiran kita sendiri, tetapi galilah firman Tuhan lebih dalam. Jangan menilai Alkitab dengan sembarangan. “nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri” (2 Pet. 1:20). Kita harus menggali sebuah ajaran/perintah bersumber dari Yesus atau firman Tuhan sendiri, yang telah diteruskan ke rasul-rasul-Nya, kemudian diteruskan ke Bapak-bapak Gereja, dan diteruskan oleh pelayan-pelayan Gereja yang telah teruji/diuji. Kita akan takjub, bahwa Tuhan sungguh-sungguh jelas dalam menerangkan setiap ajaran / perintah-Nya dalam hidup manusia. Jadi, gali lebih dalam dan tanya kepada pelayan/pengajar di Gereja. Firman Tuhan dapat mencerahkan kita.

Lihatlah murid-murid juga begitu malas, untuk bertanya hal yang tidak mereka mengerti. Ketika untuk kedua kali Yesus memberitahukan tentang penderitaan yang akan dialaminya, para murid tidak mengerti namun segan menanyakannya. “Mereka segan bukan karena Tuhan keras atau pelit kepada orang-orang yang mencari keterangan pada-Nya, namun sebenarnya mereka segan karena mereka enggan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya atau juga karena mereka pikir akan dimarahi atas kebodohan mereka yang tidak bisa menerima kebenaran itu. Sedangkan yang lain lagi tetap tidak peduli” (Matthew Henry). Jikalau kita terlalu malas menggali firman Tuhan dan ajaran-ajaran yang diberikan kepada kita, maka kita akan berjalan di tempat.  Firman Tuhan menjadi tidak berkekuatan bagi kita dan tidak mengubahkan kita.

Tuhan mengajar

Lihatlah, Yesus di satu waktu dan lainnya akan menghadapkan kita pada kebenaran, yaitu kebenaran yang selama ini kita belokkan atau hindari. Murid-murid selama ini masih ragu akan kerendahan hati dan akan mengasihi, mereka masih berlomba-lomba menjadi yang terbesar. Tetapi kemudian Yesus bertanya satu kalimat yang membuat semuanya diam dan tersipu malu. Betapa sakit, malu dan sedih, kalau kita ditangkap Tuhan sedang menyimpang dari ajaran-Nya. Dan perkataan Tuhan atau cara-Nya menegur kita akan dapat sangat keras. Hati kita akan menangis dan merana. Seketika kita sadar kita jauh dari-Nya dan kita telah berlaku munafik di hadapan-Nya.

Namun demikian, ketika Tuhan menangkap kita, serahkanlah diri kita kepada-Nya. Jadikanlah kesempatan itu untuk berubah. Bukan membenarkan diri. Sebab, selama Tuhan masih berbicara kepada kita, itu artinya masih ada kesempatan. Lihatlah, Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid-Nya. Yesus tenang dan sabar terhadap murid-murid-Nya. Kita pun jangan lihat teguran Tuhan sebagai cambukan yang hendak menyengsarakan dan memalukan kita. Tetapi lihatlah sebagai didikan bapak kepada anak-anaknya.

Kerendahan Hati: melayani

Jikalau seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. (ay. 35)

Tentulah ini ajaran sekaligus teguran bagi murid-murid yang ingin menjadi terdahulu, ingin jabatan, ingin kebesaran. Mereka ingin yang diinginkan orang-orang di dunia ini: harga diri / pamor dan kekuasaan. Bukan itu nilai kerajaan Yesus. Nilai kerajaan Allah tidak sama dengan nilai dunia. Yesus mengajarkan :

1. Jikalau seseorang ingin meninggikan harga dirinya dan berkuasa/memiliki pengaruh duniawi atas orang-orang disekelilingnya, itu hanya akan menunda pemberian kedudukan tersebut bagi mereka. Karena barangsiapa yang ingin menjadi terdahulu, ia justru akan menjadi yang terakhir. Perhatikanlah sungguh-sungguh apa motivasi kita di rumah, di tempat kerja, lingkungan masyarakat dan di Gereja.

2. Janganlah mencari atau mempertimbangkan kedudukan /otoritas di hadapan Yesus, karena itu tidak ada - seperti yang dijelaskan Matthew Henry. Tetapi yang ada hanyalah kesempatan dan kewajiban sebanyak-banyaknya untuk bekerja keras dan berlaku rendah hati. Dengan kata lain, keutamaan yang dimungkinkan dalam Kerkistenan adalah keutamaan untuk melayani dan merendahkan hati: Sederhananya, karena kita mau memuliakan Tuhan, berdoalah supaya Tuhan memberi kesempatan kepada kita melayani Dia sebanyak-banyaknya; berdoalah agar Tuhan memberi kita pekerjaan yang banyak bagi Dia; berdoalah agar kita diberi keberanian untuk memberitakan Injil dan melayani. Dan ini adalah hal yang sangat perlu. Itulah sebabnya tema kita ini tetap sahih, “jadilah yang pertama dan melayani.”

3. Bagaimana kita melayani Tuhan dan arti dari perkataan yang terdahulu hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya? Penjelasannya adalah orang yang paling rendah hati dan menyalibkan dirinya dialah yang makin serupa dengan Kristus, dan yang akan sungguh diakui oleh-Nya dengan penuh belas kasihan. Dengan contoh seorang anak kecil Yesus menjelaskan hal ini. Anak kecil itu: 1. tidak menginginkan otoritas, 2. tidak memperhatikan perbedaan lahiriah (pandang bulu), 3. bebas dari kedengkian, 4. dan mau bergantung pada orang tua mereka. Kita harus memiliki nilai-nilai baik yang ditunjukan anak-anak yang sangat kecil ini. Begitulah kita menjadi yang terakhir dan begitulah kita menyenangkan Tuhan.

Menerima Anak Kecil = menerima /melayani Kristus

Satu lagi, lihatlah perkataan Tuhan, barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini, ia menyambut Aku (ay. 37). Artinya, kita harus menerima dan melayani orang-orang demikian, yang ada di keluarga kita, tempat kerja kita, Gereja dan masyarakat kita. Orang-orang yang rendah hati, tulus, tidak ingin otoritas, bebas dari kedengkian, dan mau bergantung pada Tuhan. Mereka mudah ditipu dan dimanfaatkan oleh-orang dunia ini. Dan, tampaknya banyak murid-murid Tuhan yang tidak menyambut/memperhatikan orang-orang rendah hati ini. Mereka sibuk dengan kebesaran mereka, dan mereka tidak mengizinkan siapa pun yang bukan pengikut kelompok mereka untuk melakukan apapun (seperti perikop selanjutnya - Yohanes melarang orang mengusir setan dalam nama Yesus yang bukan dari kelompok mereka). Namun sekarang kita harus memperhatikan, menyambut dan melayani orang-orang yang rendah hati ini. Karena demikianlah kita menyambut Yesus.

(Pdt. Daniel Lubis)

Pertanyaan reflektif 

Sudahkah kita rendah hati dan rajin bekerja, dan sudahkah kita melayani orang-orang yang rendah hati; ataukah kita masih menggap diri kita lebih tinggi dari orang lain? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat Perlindungan

Renungan Harian Sabtu, 06 Januari 2024

Gembira karena Injil _ Yesaya 52:7