Orang Benar akan Hidup oleh Percayanya (Habakuk 2:1-4)
Nabi Habakuk bertanya kepada Allah mengapa orang fasik di Yehuda tidak dihukum atas dosa-dosa mereka. Dia tidak mengerti mengapa Allah yang adil membiarkan kefasikan itu tetap ada. Allah kemudian berjanji memakai orang Kasdim (bangsa Babel) untuk menghukum Yehuda yang berbuat fasik. Namun, lagi-lagi Habakuk tidak puas dengan jawaban Allah: “Engkau berdiam diri, apabila orang fasik (Babel) menelan orang yang lebih benar?”. Tentulah Yehuda, sekalipun banyak yang memberontak, masih lebih baik dari orang Babel yang adalah penyembah berhala. Mengapa Allah membiarkan ini; mereka dijajah , dikepung bahkan dianiaya oleh Babel.
Namun,
cara berpikir manusia berbeda dengan rancangan Tuhan. Jawaban Tuhan tidak dapat
ditafsir sebagai bentuk pengabaian-Nya terhadap umat-Nya. Ia selalu memikirkan
apa yang terbaik untuk umat kepunyaan-Nya. Contoh lainnya bahwa rancangan Tuhan melampaui pemikiran kita:
- Abraham: Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, (Roma 4:19-20)
- Ayub: Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? " Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. (Ayub 2:10)
Tuhan
selalu memikirkan yang baik untuk umat-Nya. Tuhan kerap tidak langsung
memberikan apa yang konkret, yang diinginkan hati kita, namun Dia mengajar kita
untuk berharap akan masa yang akan datang; Dia menghendaki kita bersabar dan
menjalani berbagai proses yang ada.
Di Sini umat diajak untuk bertahan dalam iman dan menjaga diri dengan hidup dalam kebenaran, betapa pun sukarnya situasi yang dihadapi mereka. Firman pendahuluan (Epistel) Minggu 13 Oktober berkata, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.” (Roma 1:17) Injil itu mengajak kita beriman kepada Yesus: yaitu Dia yang telah bangkit dari kematian – yang membuktikan Dia adalah Anak Allah, yang memanggil kita menjadi orang-orang kudus dan berkuasa menyelamatkan kita.
Namun banyak orang karena tekanan hidup menjadi sesat. Tetapi, kita adalah orang yang percaya, bahwa Allah akan menyelamatkan. Apakah kita hidup berdasarkan iman, ataukah berdasarkan kekuatan kita sendiri?
Sesungguhnya, orang yang membusungkan
dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh
percayanya. – Habakuk 2:4
Perhatikanlah, orang benar dibandingkan dengan orang
angkuh. Sepintas tentulah ini bukan perbandingan dengan istilah yang tepat
menurut lawan katannya. Tetapi justru perkataan ini lebih spesifik dan
sungguh-sungguh membuat kita dapat mengerti. Perhatikanlah, “orang angkuh”,
Tuhan menjelaskan, “tidak lurus hatinya”. Sedang orang benar tentulah lurus
hatinya. Artinya, orang benar tahu bahwa hidup ini haruslah terarah dan
bertanggungjawab kepada Allah, karena Allah membuat wahyu-Nya / kehendak-Nya
jelas kepada seluruh insan. Akan tetapi, orang-orang angkuh tidak sudi
memperhatikan wahyu yang sudah sangat jelas ini. Mereka membusungkan dada dan
berpikir bahwa tangan mereka sendiri cukup untuk berjuang bagi mereka dan dapat
membeli rahmat Allah. Jiwa mereka tidak benar di hadapan Allah (tidak lurus
hatinya).
Akan tetapi, orang yang benar, yaitu orang berdosa yang merendahkan hati, menyesali dosanya, bertobat dan percaya pada Allah dan janji-Nya yang akan menyelamatkan di dalam Yesus Kristus, mereka akan mengistirahatkan jiwa mereka pada janji Allah dan kepada Yesus Kristus, Sekalipun si jahat akan berkuasa dalam dunia mereka untuk beberapa saat ini.
II. Implikasi
Allah memerintahkan Habakuk mencatat janji Tuhan itu di atas loh batu (Habakuk 2:2). Supaya bisa dibaca, tetapi juga bukti dan kesaksian. Dengan harapan pengharapan itu menggema dalam sanubari umat-Nya, yaitu gema yang mengarahkan setiap hati tertuju pada Tuhan dan janji-Nya.
Habakuk: “Aku mau
berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau
dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan
dijawab-Nya atas pengaduanku.” (2:1). Yang harus kita lakukan ketika
bingung akan cara pemeliharaan Tuhan yang terkadang tidak masuk akal, adalah
kita harus mencari penjelasan dari Tuhan sendiri. Berdiri di tempat
pengintaian dan di Menara, adalah simbol dari usaha dan sumber daya yang
dimiliki Habakuk untuk beroleh penjelasan:
kita
menanti-nantikan jawaban dan penjelasan Tuhan juga, di dalam doa-doa dan
perenungan firman Tuhan di waktu-waktu yang teduh. Bahkan, Tuhan juga
sebenarnya berbicara kepada kita dalam hati nurani kita sendiri, dengan
berbisik kepada kita, inilah jalan, berjalanlah mengikutinya.
Orang yang ingin mendengar dari Allah harus menarik
diri dari dunia, harus ada komitmen/pengurbanan yang kita buat. “Kita harus
berdiri tegak di atas menara, untuk melihat kalau-kalau kita bisa menemukan
sesuatu yang dapat membungkam godaan itu dan mengatasi kesulitan yang kita
keluhkan. Kita harus berbuat seperti yang diperbuat sang pemazmur, memikir-mikir hari-hari zaman
purbakala dan mencari-cari dengan tekun (Mzm. 77:7). Dan Alkitab
adalah sumber kita. Kita juga harus masuk ke dalam tempat kudus Allah –
Persekutuan Gereja – dan di sana berusaha untuk memahami kesudahan semuanya ini
(Mzm. 73:17).”
(Matthew Henry)
Maka kita akan mendapatkan jawaban Allah, 1) entah itu
firman yang meyakinkan kita akan kebersalahan kita, atau yang memberi kita peringatan,
nasihat dan penghiburan, supaya kita dapat menerimanya, dan tunduk pada
kuasa-Nya, dan supaya kita dapat mempertimbangkan bagaimana kita menanggapi
firman Allah tersebut; 2) entah itu petunjuk Allah terkait persoalan yang kita
hadapi. Sehingga kita dapat mempertimbangkan pilihan atau jawaban yang harus
kita buat di hidup kita.
Kita pasti akan sering mengalami
seperti yang dialami Habakuk: mengapa jalan-jalan Tuhan seperti ini.
Yakinkanlah diri Anda sendiri dengan cara seperti yang dilakukan Habakuk, menanti
dan mencari penjelasan dari Tuhan, hingga Anda mendapat penghiburan dan dapat
mengalahkan keraguan Anda. Dalam Rahmat-Nya, Tuhan akan membuat semuanya jelas,
bahwa pemeliharaan-Nya adalah pasti dan membuat kita hidup selama-lamanya. (Pdt. Daniel Lubis)

Komentar
Posting Komentar